Peluang passive income klik banner untuk mendaftar

Iklan

Kamis, 09 Agustus 2012

Novel The Gas Room



Download The Gas Room 

Victoria "Tory" Troy adalah seorang teknisi euthanasia di penampungan hewan liar di Connecticut. Tugas utamanya adalah membunuh hewan-hewan yang tak punya pemilik, setiap Jumat di kamar gas tempat penampungan tersebut. Pada suatu Jumat, alih-alih membunuh hewan-hewan tersesat dan tak diinginkan, dia menyuntik enam orang rekan kerjanya dengan obat bius, kemudian menggas mereka sampai mati. Tory pun diadili. Dia pun buka mulut kepada psikiater yang ditunjuk pengadilan, kepada perawatnya, dan kepada ibunya. Para pengacara berdebat, para juri kebingungan.

Tory adalah perempuan yang cerdas, intuitif, dan lucu. Sungguh tak mungkin dia tiba-tiba tega membunuh rekan kerjanya. Semua pihak tak percaya, tetapi Tory sendiri mengakuinya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Tory?

---

The Gas Room adalah gebrakan pertama Spignesi di dunia fiksi, dan merupakan sebuah karya yang akan terus dikenang... [Ini adalah] sebuah karya lintas-genre. Selain novel suspense, ini juga misteri, penelitian karakter, thriller pengadilan, dan fiksi umum." -- Joe Hartlaub, Bookreporter.com

"Debut yang cerdas... menyedot pembacanya masuk, kemudian menyajikan akhir yang begitu ajaib dan tak terduga." -- Kirkus Reviews

Sang Penebus


 


Download SANG PENEBUS

JudulSang Penebus : I Know This Much Is True 
No. ISBN 9789793269665 
Penulis Wally Lamb 
Penerbit Qanita 
Tanggal terbit November - 2007 
Jumlah Halaman 956 




Amerika Serikat telah menjadi pelacur dunia, membunuh orang demi minyak murah, demikian pendapat Thomas Birdsey. Dan siang hari itu, Thomas, memasuki Three Rivers, perpustakaan umum Connecticut, menyendiri di salah satu ruang belajar di bagian belakang dan berdoa kepada Tuhan, semoga pengorbanan yang akan dia lakukan dapat diterima. Thomas berdoa dalam diam, mengulang-ulang doa Santo Matius, "Dan jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah ia ... Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah ia karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu secara utuh dicampakkan ke dalam neraka." Lalu dari jaket sweater-nya Thomas mengeluarkan pisau upacara Gurkha yang dibawa ayah tirinya sebagai suvenir dari Perang Dunia II… Apa yang dilakukan Thomas sungguh tindakan gila, namun barangkali dengan cara itu dia menunjukkan kegilaan dunia, ketakwarasan kita.







Novel Negara Kelima


 
Judul : Negara Kelima
Pengarang : Es Ito
Penerbit : Serambi
Cetakan : Oktober 2005
Halaman : 520
ISBN : 979-16-0095-3
Rating: *****

Pernahkah anda mendengar bahwa kepulauan Indonesia adalah salah satu lokasi yang mungkin sebagai sisa-sisa dari Atlantis kuno? Pernahkah anda menyimak cerita Tambo dari Minang, yang mengatakan bahwa orang Minang adalah keturunan Iskandar Agung? Dan pernahkah anda mendapati orang-orang yang yakin akan adanya kekuatan dari leluhur Nusantara yang suatu saat akan membangkitkan kembali kejayaan Nusantara?

Hal-hal yang berbau mitos yang ada dan menyebar di masyarakat itu menjadi latar belakang utama yang membentuk cerita novel "Negara Kelima" terbitan Serambi ini. Tapi tidak lantas novel ini menjadi kisah fantasi penuh mistis. Ini adalah novel tentang kriminalitas dan radikalisme yang dilatarbelakangi oleh interpretasi baru terhadap sejarah Nusantara.

"Es Ito, lahir pada tahun seribu sembilan ratus delapan puluh satu. Ibunya seorang petani, bapaknya seorang pedagang". Hanya itu yang tertulis pada profil penulis novel ini. Singkat, tidak berlebihan, tidak ingin menonjolkan apapun selain kesederhanaan. Tidak berusaha memberikan pretensi apapun sebelum pembaca tuntas mengikuti kisah yang ia tuturkan di novel ini.

Cuplikan Kisahnya

Tiga orang gadis muda dan seorang perwira polisi terbunuh dalam jangka waktu beberapa hari.
Kejadian itu terjadi setelah sebelumnya pihak kepolisian menggerebek markas suatu kelompok radikal yang baru saja melakukan teror di jaringan internet. Simbol dari kelompok tersebut digoreskan oleh pelaku pembunuhan di tubuh dua orang korban. Inspektur Timur Mangkuto, sahabat dari perwira polisi yang terbunuh, malah dicurigai sebagai pelaku pembunuhan. Pasalnya ia terlihat bersama dengan korban sesaat sebelum pembunuhan terjadi dan meninggalkan sidik jari. Timur Mangkuto pun sekaligus dicurigai sebagai anggota kelompok radikal tersebut yang disusupkan ke jaringan kepolisian.

Sebelum sempat tertangkap, Timur Mangkuto berhasil meloloskan diri dan segera menjadi buronan polisi nomer satu. Sementara dua orang anggota kelompok radikal yang tertangkap dalam penggerebekan, tidak mau berbicara banyak meskipun telah ditekan dengan keras. Mereka hanya berbicara tentang teka-teki lima buah negara yang mereka hafal luar kepala tapi tidak mereka ketahui jawabannya.

Dalam pelariannya Timur Mangkuto bertemu dengan Eva Duani, seorang ahli sejarah Indonesia. Bersama Eva Duani dan dipandu oleh ayahnya, Profesor Duani Abdullah, Timur Mangkuto berusaha menguak teka-teki lima negara untuk membongkar keberadaan kelompok radikal yang telah menjebaknya demi membersihkan nama baik.

Usaha menguak teka-teki lima negara itu mengharuskan mereka meneliti kitab Dialog "Timaues and Critias" karya Plato tentang negeri Atlantis yang hilang, mendengarkan dan mencari petunjuk dari sastra lisan Tambo dari Minangkabau, menerjemahkan prasasti Kedukan Bukit, menelusuri kitab Pararaton, dan meminta keterangan dari saksi sejarah atas pembentukan Pemerintahan Darurat RI di Sumatera pada tahun 1948.

Penuh Ketegangan dan Kejutan

Dikisahkan dalam ritme yang cepat penuh dengan ketegangan dan kejutan.
Alur cerita dipecah menjadi tiga bagian yang dituturkan silih berganti. Satu bagian merekam kejadian-kejadian yang dialami Timur Mangkuto dan Eva Duani dalam pelariannya. Bagian yang lain mengisahkan bagaimana para polisi mengejar Timur Mangkuto sembari juga berusaha memecahkan teka-teki. Dan pada bagian lain lagi dituturkan rentetan kegiatan dari kelompok radikal yang sedang berusaha mewujudkan ambisi besarnya.

Peristiwa demi peristiwa disusun dan direncanakan dengan baik. Tidak ada peristiwa tempelan yang tidak akan menjadi satu bagian petunjuk dari inti cerita. Ketegangan dibuat berlapis-lapis dari setiap bagian cerita. Pembaca serasa tidak diberi kesempatan mengambil nafas untuk tenang sejenak.

Di samping menyuguhkan ketegangan, novel ini juga menyodorkan seabreg fakta dan informasi dari berbagai dokumen dan narasumber sebagai hasil dari usaha pemecahan teka-teki. Fakta dan data yang benar-benar ada di kehidupan nyata itu dijalin dengan rapi oleh penulis, saling tersambung satu sama lain. Hingga akhirnya menyibak tabir tebal yang selama ini menutupi sejarah Nusantara kuno.

Kesimpulan akhir yang diberikan penulis bisa dikatakan sebagai interpretasi baru terhadap sejarah Nusantara. Berdasarkan data dan informasi dari berbagai sumber yang tampak cukup akurat, penulis mengajukan kesimpulan akhir yang cukup mengejutkan. Tapi dengan membalutnya dalam sebuah kisah fiksi, tentunya penulis bebas membentuk dan menawarkan kesimpulan besar itu tanpa perlu mempertanggungjawabkannya di hadapan forum akademik.

Bayang-bayang Dan Brown dan Minangkabau

Terasa ada bayang-bayang dari novel bestseller international "Da Vinci Code" dalam cara penulisan novel ini. Pembagian cerita dalam bab-bab pendek yang bergantian mengisahkan bagian yang berbeda, dan ending setiap bab yang dibuat menggantung, mirip dengan cara Dan Brown bertutur dalam "Da Vinci Code". Inti cerita kedua kisah tersebut juga sama-sama mengajak pembaca untuk memandang bukti-bukti sejarah dari sisi yang lain dan akhirnya menemukan persepsi baru terhadap sejarah. Tetapi karena tema dan obyeknya sangat berlainan dan tidak terkait satu sama lain, novel ini tetap bisa memilki identitasnya sendiri.

Acungan jempol patut disampaikan kepada penulis yang telah mengumpulkan sekian banyak data, menjajarkannya satu demi satu ke hadapan pembaca, dan menjalin data-data itu dalam suatu rangkaian untuk membentuk kesimpulan.

Novel ini juga terasa sangat "Minang centris". Pelaku-pelaku protagonisnya adalah orang-orang keturunan Minang. Data-data yang dikupas untuk memecahkan teka-teki hampir semua terkait dengan tanah Minang. Adat dan tata pemerintahan Minangkabau yang dibahas lengkap di novel ini dipuji sebagai pemerintahan ideal yang menjadi idaman Plato. Mungkin ini adalah suatu bentuk pemberontakan dan protes atas kondisi bangsa yang saat ini sangat "Jawa centris".

Menyentil Banyak Pihak

Beberapa isu hangat saat ini menjadi bagian yang membentuk novel ini.
Aparat yang korup dan sibuk berebut harta dan kedudukan. Ilmuwan yang tunduk kepada uang. Penghargaan yang rendah atas benda2 peninggalan sejarah. Labilnya jiwa anak muda, yang pada satu sisi menjadi orang-orang radikal membela apa yang diyakininya secara membabi buta, dan pada sisi yang lain ada yang menjadi orang-orang hedonis pencari kenikmatan sesaat tanpa tujuan hidup yang berarti.

Sementara ide utama cerita yang mengajak pembaca untuk mengungkap sejarah dari sisi lain, akan membuka mata pembaca lebar-lebar. Meskipun kebenarannya mungkin belum bisa dipastikan, tapi paling tidak akan menyadarkan pembaca bahwa kisah sejarah itu jika dilihat dari sisi yang lain dapat memunculkan persepsi yang sangat berbeda. Dan jika sejarah adalah tempat suatu bangsa untuk belajar dan bercermin, tentunya pemutarbalikan sejarah demi kepentingan penguasa adalah hal yang berbahaya bagi masa depan bangsa tersebut.

Novel ini bisa jadi akan menimbulkan kontroversi di kalangan sejarawan dari sisi kevalidan data sejarah dan interpretasi yang ditawarkan penulis. Tapi bagi pembaca yang menyukai kisah tegang dan mau sedikit membuka pikiran untuk hal-hal baru yang kontroversial, novel ini adalah bacaan yang akan menyita perhatian. Meskipun mungkin akan muncul ganjalan tentang kenapa sejarah nusantara harus dikaitkan dengan mitologi Yunani...


Download Novel Negara Kelima

Negara Kelima, Menguak Sejarah Alternatif Nusantara
Sumber: Koran Tempo


Novel Kirnya Sang Putri Rumi

Download Kirnya Sang Putri Rumi

Jalaluddin Rumi diakui sebagai tokoh spiritual yang memengaruhi banyak orang dengan ajaran-ajarannya tentang cinta Ilahi dan perdamaian. UNESCO mencanangkan 2007 sebagai Tahun Internasional Rumi, bertepatan dengan peringatan 800 tahun kelahiran tokoh sufi dariTurki ini.Namun,tak banyak orang tahu,ada sosok lain di dekat Rumi yang mengalami perjalanan ruhani yang tak kalah menariknya.

Dialah Kirnya, putri angkat Rumi.Terlahir sebagai anak petani di pedalaman Anatolia, sejak kecil dia merasakan sebuah kerinduan misterius kepada Vang Gaib. Kirnya menyaksikan dari dekat proses perubahan ayah angkatnya. Dari seorang ulama terhormat di Konya, dia menjadi perindu Tuhan, bersyair dan menari merayakan cinta Ilahi. Semua itu karena perjumpaannya dengan seorang sufi pengembara, Syams dari Tabriz.

Hidup Kirnya semakin berliku setelah dia menjadi istri Syams. Kirnya harus menghadapi permusuhan murid-murid Rumi dan penduduk Konya yang menganggap Syams meracuni pikiran Rumi. Bagaimana Kirnya menghadapinya? Apakah Syams juga mengubah diri Kirnya, sebagaimana Rumi? Dan apakah Kirnya menemukan apa yang selama ini dia rindukan? Melalui sudut pandang Kirnya, kita juga akan melihat Rumi bukan hanya sebagai orang suci, tetapi juga sebagai seorang ayah dansuami,yang mengalami kegundahan yang amat manusiawi.

Novel ini membawa pembaca berlayar menuju samudra pengetahuan luas yang berpangkal pada pertanyaan sederhana:apakah cinta itu? Muriel Maufroy sangat berhasil mempersuasi pembaca.

Novel A THOUSAND SPLENDID SUNS

 Download A THOUSAND SPLENDID SUNS

A Thousand Splendid Suns  
Sampul A Thousand Splendid Suns.jpg
Sampul buku edisi bahasa
Pengarang Khaled Hosseini
Penerjemah Berliani M. Nugrahani[1]
Negara Amerika Serikat
Bahasa Inggris (asli)
Genre Novel
Penerbit
  • Riverhead Books (AS)
  • Mizan (Indonesia)[1]
Tanggal terbit 22 Mei 2007 (AS)
November 2007 (Indonesia)[1]
Tipe media Kertas
Halaman 384 (AS)
516 (Indonesia)[1]

A Thousand Splendid Suns adalah sebuah novel karangan penulis berkebangsaan Afghanistan-Amerika Serikat, Khaled Hosseini tahun 2007. Novel ini adalah novel keduanya setelah The Kite Runner pada tahun 2003. Kisah novel ini berfokus pada lika-liku perjalanan hidup dua orang perempuan Afganistan yang hidup di tengah hiruk-pikuk pemerintahan Afganistan dari tahun 1960 sampai 2003. Novel ini dirilis pada tanggal 22 Mei 2007 di Amerika Serikat dan mendapat ulasan positif dari Kirkus,[2][3] Publishers Weekly,[4] Library Journal, dan Booklist serta menduduki posisi 2 di Amazon.com sebagai novel terlaris bahkan sebelum jadwal perilisannya.[5]
Di Indonesia, novel ini diterjemahkan oleh Berliani M. Nugrahani dan diterbitkan pertama kali pada bulan November 2007 oleh penerbit Mizan.[1]

Judul

Judul novel ini, sebagaimana yang dijelaskan di halaman awal novel, berasal dari salah satu kutipan dalam puisi penyair terkenal Iran pada abad ke-17, Saib Tabrizi:[6]
"One could not count the moons that shimmer on her roofs. And the thousand splendid suns that hide behind her walls"
("Siapapun takkan bisa menghitung bulan-bulan yang berpendar diatas atap, ataupun seribu mentari surga yang bersembunyi di balik dinding.")

Sinopsis

Novel ini berlatar belakang kehidupan Afghanistan selama masa-masa perang (1960-an sampai 2000-an). pada awal cerita ini, tokoh utamanya adalah seorang wanita bernama Mariam tetapi kemudian di pertengahan cerita, ada tokoh lain bernama Laila yang juga menjadi bagian dari tokoh utama.
Mariam adalah seorang gadis kecil yang merupakan harami (anak haram) dari seorang saudagar kaya bernama Jalil. Ibu Mariam sendiri dulunya adalah mantan pelayan di rumah Jalil. Tetapi karena masyarakat tidak mengakui adanya anak haram di dalam sebuah keluarga maka Mariam dan ibunya harus menyingkir dan memiliki kehidupan sendiri.
Jalil sering menjenguknya dan membawakannya hadiah-hadiah kecil. Jalil selalu menceritakan tentang keindahan kota Herat yang tidak pernah diinjak oleh Mariam, tentang gedung bioskop yang dimilikinya sampai bagaimana lezatnya sebuah es krim. Mariam begitu memuja Jalil sementara ibunya begitu membencinya. Mariam selalu berpikir bahwa Jalil menyayanginya. Sedangkan menurut ibunya, tak ada yang mau menyayanginya karena dia seorang harami. Hingga suatu hari Mariam minta dibawa oleh Jalil ke Herat untuk menjawab segala keingintahuannya tentang cerita-ceritanya, namun Jalil tidak mengijinkan. Tentu saja Jalil akan malu karena secara sosial, Mariam bukan anak yang diinginkan. Terlebih lagi Jalil sudah memiliki 3 orang istri sah.
Hingga pada suatu hari Mariam nekad untuk menemui Jalil walaupun tidak mendapat izin dari ibunya. Ternyata benar, Jalil memang tidak menginginkannyanya. Dia sangat menyesali keinginannya untuk datang ke Herat menemui Jalil. Terlebih lagi, kenekatan Mariam untuk menemui Jalil harus dibayar mahal. Sepulangnya dari sana, Mariam menemui ibunya tewas gantung diri.
Selepas kematian ibunya, Jalil membawa Mariam ke rumah mewahnya. Jalil dan istri-istrinya menjodohkan Mariam dengan seorang saudagar berumur 45 Tahun bernama Rasheed. Sementara saat itu umur Mariam masih 15 Tahun. Tanpa pilihan, dia akhirnya dipersunting oleh Rasheed dan dibawa ke Kabul. Disana, kehidupan pernikahan Mariam seperti neraka. Mariam harus menanggung siksaan dan perihnya luka fisik maupun luka batin yang disayatkan sang suami. Namun, ditengah-tengah penderitannya itu, hadirlah secercah mentari surga lewat sesosok gadis remaja bernama Laila yang kelak akan mengubah kehidupan Mariam.

Adaptasi film

Columbia Pictures memiliki hak atas pengadaptasian novel ini ke layar lebar. Meskipun produksinya masih belum dimulai, Steven Zaillian sudah mengkonfirmasi bahwa ia sedang menulis skenario untuk film ini. Sedangkan Scott Rudin dikabarkan akan menjadi produser film ini.

Sumber: Wikipedia
 

Apartemen Yacoubian

                                                           Download Apartemen Yacoubian
 
 Apartemen Yacoubian
(Kecamuk Cinta di Bumi Seribu Menara)
oleh: Alaa Al Aswanil

Judul Asli: Imarat Ya’qubyan
Penerbit: Serambi
Edisi: Soft Cover
ISBN: 9790240392
Tgl Penerbitan: April 2008
Bahasa: Indonesia
Halaman: 360
Ukuran: 13 x 20 cm


Novel Arab modern yang laris ini mengungkap liku-liku kisah cinta beragam anak manusia, dan gebalau situasi sosial politik sebuah negara berkembang dengan segala persoalannya yang memotret Mesir masa kini, tapi sesungguhnya juga mencerminkan apa yang sedang terjadi di negeri kita sendiri.



Pada tahun 1934, seorang hartawan asal Armenia bernama Hagop Yacoubian, mendirikan sebuah apartemen yang berlokasi di Jalan Sulaiman Pasha, Mesir. Apartemen ini kemudian diberi nama yang sama dengan nama pemiliknya. Apartemen Yacoubian mempunyai arsitektur bergaya Eropa klasik. Pada awalnya, penghuni apartemen ini adalah orang-orang penting, berasal dari kalangan bangsawan, pejabat pemerintahan dan para pengusaha asing. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, berbagai kejadian – revolusi di Mesir, meninggalnya si pemilik – turut merubah ‘penghuni’ dari apartemen itu.

Di masa sekarang, penghuni apartemen itu berasal dari berbagai kalangan dengan berbagai latar belakang yang unik. Ada yang kaya, ada yang miskin, ada pemuda jujur, bahkan orang-orang yang licik. Bagian-bagian apartemen itu pun ada yang dialihfungsikan. Misalnya, di bagian atap bangunan itu ada kamar-kamar besi yang awalnya adalah ruang penyimpanan barang-barang dari penghuni apartemen itu. Namun, kepimilikan yang terus berganti, membuat fungsi kamar besi pun berubah menjadi ‘rumah tinggal’ bagi masyarakat kelas bawah.

Novel ini pun berkisah tentang liku-liku kehidupan para penghuni apartemen yang sebagian besar ‘bernuansa’ suram. Sebut saja, Zaki Bey. Ia bukan penghuni tetap apartemen ini, tapi, ia mempunyai kantor di gedung ini yang merupakan warisan ayahnya. Zaki Bey, seorang laki-laki tua yang masih melajang tapi gemar main perempuan. Setiap orang yang kenal dengannya, sering minta pendapat Zaki Bey untuk menaklukan perempuan.

Lain lagi, dengan Haji Muhammad Azzam, yang mempunyai kios toko pakaian di apartemen ini, menggunakan salah satu kamar untuk ‘menyembunyikan’ istri simpanannya, Suad, perempuan Mesir asal Aleksandria yang menikahinya karena alasan uang. Diceritakan juga bagaimana sepak terjang Haji Azzam untuk masuk ke dunia politik dengan cara yang licik.

Itu belum seberapa dengan Hatim, redaktur koran yang menjadikan kamar apartemennya untuk melakukan sebuah hubungan terlarang dengan tentara miskin bernama Abduh. Meski Abduh sudah punya istri dan anak, tapi toh tidak menghalangi mereka terus menjalani hubungan sesama jenis.

Sementara itu, kisah di bagian atap bangunan ini juga tak kalah rumit. Adalah Thaha, seorang pemuda yang idealis. Ia kerap dijadikan bahan olok-olok anak-anak di gedung itu hanya karena ia adalah anak seorang bawwah – seorang pembantu. Ia berusaha membangkitkan rasa percaya dirinya dengan bercita-cita menjadi seorang polisi, agar orang-orang tidak lagi memandangnya sebelah mata. Tapi, justru cita-cita itulah, yang membuatnya kecewa dan berganti haluan. Ketika ia melanjutkan kuliahnya, Thaha bergabung dengan sebuah kelompok Muslim yang radikal. Tapi, malang, hal ini malah membuatnya mengalami sebuah trauma yang membuat harga dirinya jatuh.

Sementara itu, kekasih Thaha, Busainah, pun mulia berubah sejak ayahnya meninggal. Ia diharapkan menjadi tulang punggung keluarganya. Kecantikannya membuat ia mudah memperoleh pekerjaan, tapi tertanya itu pun harus dibayar dengan mengorbankan harga dirinya.

Buku ini terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama adalah pengenalan tokoh-tokoh. Masa lalu mereka dan bagaimana mereka sampai di titik kehidupan saat ini. Hampir tidak ada percakapan dalam bagian pertama ini. Nyaris membuat gue berhenti membaca buku ini. Ya… tau deh.. gue paling males baca buku yang minim percakapan… Tapi, pelan-pelan diikuti, ternyata buku ini mengasyikan juga. Konflik setiap tokoh bikin buku ini jadi menarik.

Lalu, masuk ke bagian kedua, mulailah tampak bagaimana beberapa tokoh akhirnya berhubungan, atau malah ‘lepas’ sama sekali dari lingkungan Apartemen Yacoubian.

Setiap tokoh diberi porsi yang pas untuk mulai dan mengakhiri kisah mereka. Ada yang tragis banget… ada yang romantis…

Aneka corak kehidupan tersebut berujung pada akhir yang mengejutkan dalam buku ini. Dituturkan dengan bahasa yang lincah dan sederhana, novel ini merupakan sebuah jendela untuk memahami cinta dan pengorbanan dalam dunia urban modern.

 Pujian:
"Sangat menarik dan kontroversial ..."
—New York Review of Books
"Novel ini telah memperkaya seni novel Mesir modern."
—Gamal al-Ghitany, novelis Mesir terkemuka




Ayat-ayat Cinta (Habiburrahaman El Shirazy)


Download Ayat-ayat Cinta



Detail Novel:
Judul: Ayat Ayat Cinta
ISBN: 979-3604-02-6
Penulis: Habiburrahman El Shirazy
Penerbit: Republika
Terbit: Desember 2004
Isi: 419 halaman
Ayat-ayat cinta adalah sebuah novel 411 halaman yang ditulis oleh seorang novelis muda Indonesia kelahiran 30 September 1976 yang bernama Habiburrahman El-Shirazy. Ia adalah seorang sarjana lulusan Mesir dan sekarang sudah kembali ke tanah air. Sepintas lalu, novel ini seperti novel-novel Islami kebanyakan yang mencoba menebarkan dakwah melalui sebuah karya seni, namun setelah ditelaah lebih lanjut ternyata novel ini merupakan gabungan dari novel Islami, budaya dan juga novel cinta yang banyak disukai anak muda. Dengan kata lain, novel ini merupakan sarana yang tepat sebagai media penyaluran dakwah kepada siapa saja yang ingin mengetahui lebih banyak tentang Islam, khususnya buat para kawula muda yang kelak akan menjadi penerus bangsa.
Novel ini bercerita tentang perjalanan cinta dua anak manusia yang berbeda latar belakang dan budaya; yang satu adalah mahasiswa Indonesia yang sedang studi Universitas Al-Azhar Mesir, dan yang satunya lagi adalah mahasiswi asal Jerman yang kebetulan juga sedang studi di Mesir. Kisah percintaan ini berawal ketika mereka secara tak sengaja bertemu dalam sebuah perdebatan sengit dalam sebuah metro (sejenis trem).
Mein Neim Ist Aisha
——————————
Pada waktu itu, si pemuda yang bernama lengkap Fahri bin Abdullah Shiddiq, sedang dalam perjalanan menuju Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq yang terletak di Shubra El-Kaima, ujung utara kota Cairo, untuk talaqqi (belajar secara face to face pada seorang syaikh) pada Syaikh Utsman Abdul Fattah, seorang Syaikh yang cukup tersohor di seantero Mesir. kepadanya Fahri belajar tentang qiraah Sab’ah (membaca Al-Qur’an dengan riwayat tujuh imam) dan ushul tafsir (ilmu tafsir paling pokok). Hal ini sudah biasa dilakukannya setiap dua kali seminggu, setiap hari Ahad/Minggu dan Rabu. Dia sama sekali tidak pernah melewatkannya walau suhu udara panas menyengat dan badai debu sekalipun. Karena baginya itu merupakan suatu kewajiban karena tidak semua orang bisa belajar pada Syaikh Utsman yang sangat selektif dalam memilih murid dan dia termasuk salah seorang yang beruntung.
Di dalam metro, Fahri tidak mendapatkan tempat untuk duduk, mau tidak mau dia harus berdiri sambil menunggu ada kursi yang kosong. Kemudian ia berkenalan dengan seorang pemuda mesir bernama Ashraf yang juga seorang Muslim. Merteka bewrcerita tentang banyak hal, termasuk tentang kebencian Ashraf kepada Amerika. Tak berapa lama kemudian, ada tiga orang bule yang berkewarganegaraan Amerika (dua perempuan dan satu laki-laki) naik ke dalam metro. Satu diantara dua perempuan itu adalah seorang nenek yang kelihatannya sudah sangat lelah. Biasanya orang Mesir akan memberikan tempat duduknya apabila ada wanita yang tidak mendapatkan tempat duduk, namun kali ini tidak. Mungkin karena kebencian mereka yang teramat sangat kepada Amerika. Sampai pada suatu saat, ketika si nenek hendak duduk menggelosor di lantai, ada seorang perempuan bercadar putih bersih yang sebelumnya dipersilahkan Fahri untuk duduk di bangku kosong yang sebenarnya bisa didudukinya, memberikan kursinya untuk nenek tersebut dan meminta maaf atas pwerlakuan orang-orang Mesir lainnya. Disinilah awal perdebatan itu terjadi. Orang-orang Mesir yang kebetulan mengerti bahasa Inggris merasa tersinggung dengan ucapan si gadis bercadar. Mereka mengeluarkan berbagai umpatan dan makian kepada sang gadis, dan ia pun hanya bisa menangis. Kemudian Fahri berusaha untuk meredakn perdebatan itu dengan menyuruh mereka membaca shalawat Nabi karena biasannya dengan shalawat Nabi, orang Mesir akan luluh kemarahannya dan ternyata berhasil. Lalu ia mencoba menjelaskan pada mereka bahwa yang dilakukan perempuan bercadar itu benar, dan umpatan-umpatan itu tidak layak untuk dilontarkan. Namun apa yang terjadi, orang-orang Mesir itu kembali mrah dan meminta Fahri untuk tidak ikut campur dan jangan sok alim karena juz Amma saja belumtentu ia hafal. Kemudian emosi mereka mereda ketika Ashraf yang juga ikut memaki perempuan bercadar itu, mengatakan bahwa Fahri adalah mahasiswa Al-Azhar dan hafal Al-Qur’an dan juga murid dari Syaikh Utsman yang terkenal itu. Lantas orang-orang Mesir itu meminta maaf pada fahri. Fahri kemudian menjelaskan bahwasanya mereka tidak seharusnya bertindak seperti itu karena ajaran Baginda Nabi tidak seperti itu. Lalu ia pun menjelaskan bagaimana seharusnya bersikap kepada tamu apalagi orang asing sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Mereka pun mengucapkan terima kasih pada fahri karena sudah megingatkan mereka. Sementara itu, si bule perempuan muda, Alicia, sedang mendengarkan penjelasan tentang apa yang terjadi dari si perempuan bercadar dengan bahasa Inggris yang fasih.Kemudian Alicia berterima kasih dan menyerahkan kartu namanya pada Fahri. Tak berapa lama kemudian metro berhenti dan perempuan bercadar itupun bersiap untuk turun. Sebelum turun ia mengucapkan terima kasih pada Fahri karena sudah menolongnya tadi. Akhirnya mereka pun berkenalan. Dan ternyata si gadis itu bukanlah orang Mesir melainkan gadis asal Jerman yang sedang studi di Mesir. Ia bernama Aisha.
———————————————
Di Mesir, Fahri tinggal bersama dengan keempat orang temannya yang juga berasal dari Indonesia, yaitu Saiful, Rudi, Hamdi dan Misbah. Fahri sudah tujuh tahun hidup di Mesir. Mereka tinggal di sebuah apartemen sederhana yang mempunyai dua lantai, dimana lantai dasar menjadi tempat tinggal Fahri dan empat temannya, sedangkan yang lantai atas ditempati oleh sebuah keluarga Kristen Koptik yang sekaligus menjadi tetangga mereka. Keluarga ini terdiri dari Tuan Boutros, Madame Nahed, dan dua orang anak mereka – Maria dan Yousef. Walau keyakinan dan aqidah mereka berbeda, namun antara keluarga Fahri (Fahri dkk) dan keluarga Boutros terjalin hubungan yang sangat baik. Di Mesir, bukanlah suatu keanehan apabila keluarga Kristen koptik dan keluarga Muslim dapat hidup berdampingan dengan damai dalam masyarakat. Keluarga ini sangat akrab dengan Fahri terutama Maria. Maria adalah seorang gadis Mesir yang manis dan baik budi pekertinya. Kendati demikian, Fahri menyebutnya sebagai gadis koptik yang aneh, karena walaupun Maria itu seorang non-muslim ia mampu menghafal dua surah yang ada dalam Al-Quran dengan baik yang belum tentu seorang Muslim mampu melakukannya. Ia hafal surat Al-Maidah dan surah Maryam. Fahri juga baru mengetahuinya ketika mereka secara tak sengaja bertemu di metro. Seluruh anggota keluarga Boutros sangat baik kepada Fahri dkk. Bahkan ketika Fahri jatuh sakit pun keluarga ini jugalah yang membantu membawa ke rumah sakit dan merawatnya selain keempat orang teman Fahri. Apalagi Maria, dia sangat memperhatikan kesehatan Fahri. Keluarga ini juga tidak segan-segan mengajak Fahri dkk untuk makan di restoran berbintang di tepi sungai Nil,kebanggaan kota Mesir, sebagai balasan atas kado yang mereka berikan. Pada waktu itu Madame Nahed berulang-tahun dan malam sebelumnya Fahri dkk memberikan kado untuknya hanya karena ingin menyenangkan hati beliau karena bagi Fahri menyenangkan hati orang lain adalah wajib hukumnya. Setelah makan malam, tuan dan nyonya Boutros ingin berdansa sejenak. Madame Nahed meminta Fahri untuk mengajak Maria berdansa karena Maria tidak pernah mau di ajak berdansa. Setelah tuan dan nyonya Boutros melangkah ke lantai dansa dan terhanyut dengan alunan musik yang syahdu, Maria pun memberanikan diri mengajak Fahri untuk berdansa, namun Fahri menolaknya dengan alasan Maria bukan mahramnya kemudian menjelaskannya dengan lebih detail. Begitulah Fahri, ia selalu berusaha untuk menjunjung tinggi ajaran agama yang dianutnya dan selalu menerapkannya dalm kehidupan sehari-hari.
Si Muka Dingin Bahadur dan Noura yang Malang
———————————————————————-
Selain bertetangga dengan keluarga Boutros, Fahri juga mempunyai tetangga lain berkulit hitam yang perangainya berbanding 180 derajat dengan keluarga Boutros. Kepala keluarga ini bernama Bahadur yang terkenal dengan julukan si Muka Dingin karena ia selalu berperangai kasar kepada siapa saja bahkan dengan istrinya madame Syaima dan putri bungsunya Noura. Bahadur dan istrinya mempunyai tiga orang putri, Mona, Suzanna, dan Noura. Mona dan Suzanna berkulit hitam namun tidak halnya dengan Noura, dia berkulit putih dan berambut pirang. Hali inilah ang membuat Noura dimusuhi keluarganya yang pada akhirnya membuat dirinya tercebur kedalam penderitaan yang amat sangat. Bahadur mempunyai watak yang keras dan bicaranya sangat kasar, Nouralah yang selalu menjadi sasaran kemarahannya. Dan kedua orang saudaranya yang juga tidak menyukai Noura mengambil kesempatan ini untuk ikut-ikutan memaki dirinya. Sampai tibalah pada suatu malam yang tragis dimana Bahadur menyeret Noura ke jalanan dan punggungnya penuh dengan luka cambukan. Hal ini sudah sering terjadi, namun malam itu yang terparah. Tak ada satu orang pun yang berani menolong. Selain hari sudah larut, Bahadur juga dikenal amat kejam. Akhirnya, karena sudah tak tahan lagi melihat penderitaan Noura, Fahri pun meminta bantuan Maria melaui sms untuk menolong Noura. Awalnya Maria menolak karena tidak mau keluarganya terlibat dengan keluarga Bahadur. Namun setelah Fahri memohon agar Maria mau menolongnya demi kecintaan Maria terhadap Al-Masih, Maria akhirnya luluh juga. Jadilah malam itu Noura menginap di rumah keluarga Boutros. Malam ini jualah yang akhirnya menghantarkan Fahri ke dalam penderitaan yang amat sangat dan juga membuatnya hampir kehilangan kesempatan untuk hidup di dunia fana ini.


 KELEBIHAN

  • Ceritanya begitu menyentuh dan mengalir seakan pembaca mengalami berbagai problema yang melilit sang tokoh 
  • Penulis mengajak pembaca mendalami Islam dengan bahasanya yang menyejukkan
  • Kisah-kisah hubungan antar manusia (kisah cinta) digambarkan secara menarik dan utuh tanpa harus terasa vulgar.

KEKURANGAN

  • Seorang pria dicintai empat orang wanita. Mungkinkah? Jika dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, rasanya aneh jika ada pria yang di”gilai” oleh empat orang wanita sekaligus. Baik Aisha, Maria, Noura, dan Nurul menginginkan Fahri menjadi suaminya. Beruntung sekali tokoh Fahri! Mungkinkah hal yang demikian ada dalam kehidupan nyata? 
  • Noura frustasi karena tidak mendapatkan cinta Fahri. Ia lantas memfitnah Fahri dengan tuduhan yang kejam. Benarkah ada seorang wanita yang seperti Noura dalam kehidupan nyata? Cinta tetaplah cinta. Tidak akan berubah menjadi pisau yang dapat menusuk dari belakang.

KEBERMANFAATAN

  • Merupakan media penyaluran dakwah kepada siapa saja yang ingin mengetahui lebih banyak tentang islam 
  • Dengan membaca novel ini kita dapat mengetahui geografi kota Mesir serta sosial budaya Timur Tengah tanpa harus pergi ke sana.
  • Memberikan contoh pada kita tentang sebuah pernikahan yang baik dan sesuai syariat Islam.


Habiburrahman El Shirazy.jpgHabiburrahman El Shirazy



Lahir 30 September 1976 (umur 35)
Bendera Indonesia Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
Nama pena/samaran Kang Abik
Pekerjaan sutradara, dai, novelis, penyair
Kebangsaan Indonesia
Aliran Sastra sastra moralis
Istri/Suami Muyasaratun Sa'idah
Anak Muhammad Ziaul Kautsar
Muhammad Neil Author
Habiburrahman El Shirazy (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 30 September 1976; umur 35 tahun) adalah Novelis No. 1 Indonesia (dinobatkan oleh INSANI UNIVERSITAS DIPONEGORO (UNDIP) Semarang). Selain novelis, sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini juga dikenal sebagai sutradara, dai, dan penyair. Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Hongkong, Taiwan dan Australia. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Di antara karya-karyanya yang telah beredar di pasaran adalah Ayat-Ayat Cinta (telah dibuat versi filmnya, 2004), Di Atas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta Bertasbih (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember, 2007) Dalam Mihrab Cinta (2007), Bumi Cinta, (2010) dan The Romance. Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, dan Bulan Madu di Yerussalem.

Pendidikan

Memulai pendidikan menengahnya di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak di bawah asuhan K.H. Abdul Bashir Hamzah. Pada tahun 1992 ia merantau ke kota budaya Surakarta untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta, lulus pada tahun 1995. Setelah itu melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Fakultas Ushuluddin, Jurusan Hadist Universitas Al-Azhar, Kairo dan selesai pada tahun 1999. Pada tahun 2001 lulus Postgraduate Diploma (Pg.D) S2 di The Institute for Islamic Studies di Kairo yang didirikan oleh Imam Al-Baiquri.

Aktivitas

Selama di Kairo

Ketika menempuh studi di Kairo, Mesir, Kang Abik pernah memimpin kelompok kajian MISYKATI (Majelis Intensif Yurisprudens dan Kajian Pengetahuan Islam) di Kairo (1996-1997). Pernah terpilih menjadi duta Indonesia untuk mengikuti "Perkemahan Pemuda Islam Internasional Kedua" yang diadakan oleh WAMY (The World Assembly of Moslem Youth) selama sepuluh hari di kota Ismailia, Mesir (Juli 1996). Dalam perkemahan itu, ia berkesempatan memberikan orasi berjudul Tahqiqul Amni Was Salam Fil ‘Alam Bil Islam (Realisasi Keamanan dan Perdamaian di Dunia dengan Islam). Orasi tersebut terpilih sebagai orasi terbaik kedua dari semua orasi yang disampaikan peserta perkemahan tersebut. Pernah aktif di Mejelis Sinergi Kalam (Masika) ICMI Orsat Kairo (1998-2000). Pernah menjadi koordinator Islam ICMI Orsat Kairo selama dua periode (1998-2000 dan 2000-2002). Sastrawan muda ini pernah dipercaya untuk duduk dalam Dewan Asaatidz Pesantren Virtual Nahdhatul Ulama yang berpusat di Kairo. Dan sempat memprakarsai berdirinya Forum Lingkar Pena (FLP) dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Kairo.

Selama di Indonesia

Setibanya di tanah air pada pertengahan Oktober 2002, ia diminta ikut mentashih Kamus Populer Bahasa Arab-Indonesia yang disusun oleh KMNU Mesir dan diterbitkan oleh Diva Pustaka Jakarta, (Juni 2003). Ia juga diminta menjadi kontributor penyusunan Ensiklopedia Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Pemikirannya, (terdiri atas tiga jilid ditebitkan oleh Diva Pustaka Jakarta, 2003).
Antara tahun 2003-2004, ia mendedikasikan ilmunya di MAN I Jogjakarta. Selanjutnya sejak tahun 2004 hingga 2006, ia menjadi dosen Lembaga Pengajaran Bahasa Arab dan Islam Abu Bakar Ash Shiddiq UMS Surakarta.
Kini novelis tersebut tinggal di kota Salatiga. Aktivitas kesehariannya lebih banyak digunakan untuk memenuhi undangan mengisi seminar dan ceramah, di samping juga menulis novel yang menjadi pekerjaan utamanya dan sesekali menulis skenario sinetron untuk Sinemart (sebuah rumah produksi yang menaungi karya-karyanya di dunia perfilman dan persinetronan).

Prestasi

Kang Abik, demikian novelis ini biasa dipanggil adik-adiknya, semasa di SLTA pernah menulis teatrikal puisi berjudul Dzikir Dajjal sekaligus menyutradarai pementasannya bersama Teater Mbambung di Gedung Seni Wayang Orang Sriwedari Surakarta (1994). Pernah meraih Juara II lomba menulis artikel se-MAN I Surakarta (1994). Pernah menjadi pemenang I dalam lomba baca puisi relijius tingkat SLTA se-Jateng (diadakan oleh panitia Book Fair’94 dan ICMI Orwil Jateng di Semarang, 1994). Pemenang I lomba pidato tingkat remaja se-eks Keresidenan Surakarta (diadakan oleh Jamaah Masjid Nurul Huda, UNS Surakarta, 1994). Ia juga pemenang pertama lomba pidato bahasa Arab se-Jateng dan DIY yang diadakan oleh UMS Surakarta (1994). Meraih Juara I lomba baca puisi Arab tingkat Nasional yang diadakan oleh IMABA UGM Jogjakarta (1994). Pernah mengudara di radio JPI Surakarta selama satu tahun (1994-1995) mengisi acara Syharil Quran Setiap Jumat pagi. Pernah menjadi pemenang terbaik ke-5 dalam lomba KIR tingkat SLTA se-Jateng yang diadakan oleh Kanwil P dan K Jateng (1995) dengan judul tulisan, Analisis Dampak Film Laga Terhadap Kepribadian Remaja. Beberapa penghargaan bergengsi lain berhasil diraihnya antara lain, Pena Award 2005, The Most Favorite Book and Writer 2005 dan IBF Award 2006.
Dari novelnya yang berjudul "Ayat-ayat Cinta" dia sudah memperoleh royalti lebih dari 1,5 Milyar, sedangkan dari buku-bukunya yang lain tidak kurang ratusan juta sudah dia kantongi.

Karya-karyanya

Selama di Kairo

Selama di Kairo, ia telah menghasilkan beberapa naskah drama dan menyutradarainya, di antaranya: Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (gubahan atas karya Dr. Yusuf Qardhawi yang berjudul 'Alim Wa Thaghiyyah, 2000), Darah Syuhada (2000). Tulisannya berjudul Membaca Insanniyah al Islam dimuat dalam buku Wacana Islam Universal (diterbitkan oleh Kelompok Kajian MISYKATI Kairo, 1998). Berkesempatan menjadi Ketua TIM Kodifikasi dan Editor Antologi Puisi Negeri Seribu Menara Nafas Peradaban (diterbitkan oleh ICMI Orsat Kairo)
Beberapa karya terjemahan yang telah ia hasilkan seperti Ar-Rasul (GIP, 2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (GIP, 2002), Menyucikan Jiwa (GIP, 2005), Rihlah Ilallah (Era Intermedia, 2004), dll. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (FBA, 2001), Merah di Jenin (FBA, 2002), dan Ketika Cinta Menemukanmu (GIP, 2004).

Karya puisi

Sebelum pulang ke Indonesia, di tahun 2002, ia diundang Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia selama lima hari (1-5 Oktober) untuk membacakan pusinya dalam momen Kuala Lumpur World Poetry Reading ke-9, bersama penyair-penyair negara lain. Puisinya dimuat dalam Antologi Puisi Dunia PPDKL (2002) dan Majalah Dewan Sastera (2002) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dalam dua bahasa, Inggris dan Melayu. Bersama penyair negara lain, puisi kang Abik juga dimuat kembali dalam Imbauan PPDKL (1986-2002) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia (2004).

Karya sastra populer

Beberapa karya populer yang telah terbit antara lain, Ketika Cinta Berbuah Surga (MQS Publishing, 2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (Republika, 2005), Ayat-Ayat Cinta (Republika-Basmala, 2004), Diatas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Bertasbih (Republika-Basmala, 2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Republika-Basmala, 2007) dan Dalam Mihrab Cinta (Republika-Basmala, 2007). Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, Bulan Madu di Yerussalem, dan Dari Sujud ke Sujud (kelanjutan dari Ketika Cinta Bertasbih).

Karya film

Sebagai sutradara Kang Abik mengawali debutnya dengan film Dalam Mihrab Cinta yang diangkat dari novelnya dengan judul yang sama.